Senin, 13 Februari 2012

Menu Spesial Untuk Ibu Hamil


Agar menyusui makin lancar, manjakan ibu dengan cemilan dan minuman pendukung ASI yang kaya akan nutrisi

Watermelon Smoothie

Bahan :

600 gram, melon warna orange
250 ml, susu cair
125 gram, yogurt
50 gram, gula pasir
2 scope, ice cream vanili

Cara membuat :

Blender melon, susu cair, yoghurt, dan gula pasir hingga halus, tambahkan ice cream, dan blender kembali. Tuang dalam gelas saji. Sajikan selagi dingin.

Puding Lapis Susu

Bahan 1 :

500 ml, susu kedelai
75 gram, gula pasir
1 bungkus, agar-agar warna hijau
1 butir, kuning telur

Bahan 2 :

500 ml, susu kedelai
75 gram, gula pasir
1 bungkus, agar-agar bubuk warna merah


Pelengkap :
250 gram fruit cocktail

Cara membuat :

Bahan 1 : campur susu kedelai, gula pasir, dan agar-agar bubuk. Masak sampai mendidih. Ambil sedikit adonan, tambahkan kuning telur, kocok hingga lepas. Lalu tuangkan kembali ke dalam panci sambil diaduk rata, masak kembali sampai mendidih. Setelah matang, tuang ke dalam loyang bervolume satu liter. Sisihkan.

Bahan 2 : Campur susu kedelai, gula pasir, agar-agar bubuk, masak hingga mendidih. Tuang di atas agar-agar pertama. Biarkan hingga keras. Sajikan dengan fruit cocktail5

Rolade Daun Katuk

Bahan :

250 gram daun katuk, rebus sebentar
200 gram tahu, haluskan
2 butir telur, kocok lepas
2 buah wortel, kupas, potong dadu kecil
4 sendok makan, susu bubuk
Daun pisang untuk membungkus
Tusuk gigi

Bumbu yang dihaluskan :

6 butir, bawang merah
3 siung ,bawang putih
1 sendok makan, ebi, rendam, dan tiriskan
1 sendok teh, merica
1 sendok teh, garam

Cara Membuat :
1. Campur bumbu halus dengan tahu, telur, wortel, dan susu. Aduk rata.
2. Bentangkan daun katuk rebus di atas selembar dau pisang, beri adonan tahu di atasnya, gulung sampai padat. Bungkus bentuk lontong, sematkan pinggirnya dengan tusuk gigi.
3. Kukus dalam dandang panas selama 20 menit atau sampai matang. Angkat dan buka bungkus daun pisangnya. Potong-potong sesuai selera.

Pancake Kacang Merah

Bahan Pancake :

100 gram, tepung terigu
1 sendok teh, baking powder
200 mili liter, susu
25 gram, gula pasir
½ sendok teh, garam
2 butir, telur
30 gram, margarin, cairkan

Bahan Isi :
150 gram, kacang merah, rebus sampai empuk, haluskan
100 gram, gula pasir
1 lembar, daun pandan
1 sendok makan, mentega

Cara membuat :

Buat adonan pancake : campur tepung bersama baking powder, susu, gula pasir, garam, telur, dan margarine cair, aduk rata.
Panaskan  wajan dada bergaris tengah 8 cm. Tuang 50 ml adonan. Masak sampai adonan berlubang-lubang. Angkat, sishkan.

Isi : Campur semua bahan isi dan masak sampai adonan mengental.
Ambil selembar pancake, olesi adonan isi. Lipat menjadi dua bagian. Ulangi hingga bahan habis, dan sajikan.

Sekoteng Susu Jahe

Bahan :

500 mili liter, susu kedelai
25 gram, jahe, bakar, memarkan
2 batang, serai, memarkan
2 lembar, daun pandan
100 gram, gula batu

Isi :

50 gram, kacang tanah sangrai, kupas kulitnya
100 gram, kolang-kaling, rebus sebentar, tiriskan
100 gram, kacang merah, rebus hingga empuk, tiriskan
100 gram, melon hijau, buat bentuk bulat dengan bowler.

Cara membuat :

Rebus susu kedelai jahe, serai, dan daun pandan, hingga mendidih. Angkat. Masukkan gula batu, aduk sampai gula mencair.

Ambil mangkuk saji, taruh susu, beri kacang tanah, kolang-kaling, kacang merah, dan melon hijau.

Sajikan minuman ini selagi hangat atau dingin.

Tips : 

1. Sebaiknya gunakan plain yoghurt karena yogurt yang sudah diberi perasa atau campuran buah, biasanya mengandung lebih banyak gula.

2. Susu, yoghurt, dan keju adalah sumber kalsium yang amat bagus untuk memproduksi ASI. Apalagi ASI mengeluarkan 250-300 mili gram kalsium per hari.

3. Daun katuk banyak skeali nilai gizinya. Seperti protein, lemakkalsium, fosfor, zat besi serta vitamin A, B, dan C. Daun katuk sendiri dapat membuat produksi ASI menjadi lebiih baik.

4. Ibu menyusui sebaiknya mengkonsumsi makanan yang mengandung kacang-kacangan dan biji-bijian sekitar 15 gram/hari.

5.  Kandungan susu kedelai dan kacang-kacangan yang kaya protein akan melancarkan ASI.

)* Resep dan gambar diambil dari Tabloid NOVA.

Sabtu, 11 Februari 2012

Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil Harus Terpenuhi

Masa kehamilan adalah saat yang paling rawan yang dihadapi oleh seorang perempuan. Selain memikirkan kesehatan sendiri, ia juga harus memenuhi asupan gizi untuk pertumbuhan janin di dalam kandungannya. 
Masa kehamilan adalah saat yang berisiko karena banyak perempuan yang belum sadar bahwa gizi yang dipenuhinya harus lebih banyak dari saat belum hamil. Jika tidak terpenuhi maka akibatnya bisa fatal. Inilah yang menyebabkan angka kematian ibu hamil masih tinggi.


Ada tiga resiko yang dihadapi perempuan hamil. Yaitu kehamilan itu sendiri yang harus dijaga kesehatan dan kondisi ibu hamil, serta janin agar senantiasa sehat hingga lahir normal. Resiko lainnya adalah kesehatan jangka panjang yang menyerang ibu dan resiko yang akan dihadapi pada anak hingga masa dewasanya. Jika asupan nutrisi yang diterima saat ia masih di dalam kandungan kurang, bisa menyebabkan masa tumbuh kembang anak juga kurang optimal.


Beberapa masalah kesehatan yang terjadi pada ibu hamil, antara lain anemia dan malnutrisi. Hal tersebut dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin dan akan berakibat buruk pada kesehatannya di masa depan. Beberapa resiko yang muncul antara lain gangguan pernafasan pada bayi, berat badan saat lahir rendah, keguguran, kelahiran prematur, hingga kematian ibu dan bayi. Selain itu, juga bisa menyebabkan terjadinya pendarahan, partus lama, aborsi, dan infeksi.


Perlu diketahui, angka kematian ibu di Indonesia masih besar. Sekitar 55 pesen terjadi karena pendarahan dan pre-eclampsia, yang juga berkaitan erat dengan gizi yang buruk semasa hamil.  Sementara, ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan rendah, ke depannya, anak tersebut juga berisiko memiliki IQ rendah dan beresiko pula pada kualitas generasi selanjutnya. Siklus ketidak sehatan ini akan selalu memutar, terus menerus.  


Generasi yang tumbuh kembangnya kurang optimal, nanti akan melahirkan anak yang kondisinya juga kurang sempurna.
Ketidak seimbangan pola nutrisi pada ibu hamil, salah satunya disebabkan oleh kurangnya edukasi yang memadai. Selain itu juga, tingkat perekonomian yang relatif rendah, sehingga tak bisa menjangkau asupan gizi tersebut. Untuk itu, ada beberapa hal yang wajib diperhitungkan terlebih dahulu sebelum kehamilan terjadi. Antara lain soal dana. Kita harus memikirkan dana untuk kecukupan gizi selama kehamilan, pemeriksaan kehamilan secara rutin, biaya persalinan, hingga memenuhi kebutuhan anak hingga besar nanti.  


Ketika dana sudah siap, pesiapan yang kemudian perlu dilakukan adalah pemilihan asupan nutrisi yang tepat. Terkadang asupan nutrisi yang dibutuhkan satu orang, berbeda dengan orang lainnya. Untuk itu perlu dikonsultasikan pada ahlinya, melalui serangkaian tes terlebih dahulu. 

Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms :085695138867

Donor ASI, Kapan dan Bagaimana?

Sering kali kita membaca di milis dan media sosial adanya permintaan ASI donor karena beberapa sebab, misalnya: ibu meninggal, ibu sakit, bayi masuk NICU, bayi masuk inkubator, bayi terlantar, persediaan ASI perah habis, ASI belum keluar, persiapan menjelang melahirkan ataupun tidak mencantumkan alasan kenapa membutuhkan ASI donor.
Bagaimana sih posisi ASI donor dalam dunia perASIan? Apakah aman dan disarankan? Kapan sebaiknya memakai ASI donor?.
Pada dasarnya bayi baru lahir sehat dari ibu yang sehat bisa mendapat ASI secara penuh tanpa perlu tambahan, asalkan mendapat kesempatan menjalani Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan Rawat Gabung penuh 24 jam bersama ibu, serta bayi menyusu tanpa jadwal dengan posisi dan pelekatan yang efektif.
Lalu kondisi apa saja yang membuat bayi mungkin perlu mendapatkan suplementasi baik berupa tambahan atau pengganti selain menyusu? WHO dan UNICEF mengeluarkan dokumen Alasan Medis Menggunakan Pengganti ASI yang telah dirangkum sebagai berikut:
Indikasi pada Bayi yang Memerlukan Pengganti ASI:
·         Inborn errors of metabolism atau kelainan metabolisme bawaan (galaktosemia, fenilkotenouria, penyakit urin sirup mapel)
Indikasi pada Bayi yang Mungkin Memerlukan Suplementasi:
·         Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (kurang dari 1500 gram) atau usia kehamilan kurang dari 32 minggu
·         Bayi berisiko hipoglikemia karena gangguan adaptasi metabolik atau peningkatan kebutuhan glukosa (Kecil Masa Kehamilan, prematur, mengalami stres hipoksik/iskemik, bayi sakit, bayi dengan ibu yang menderita diabetes) jika kadar gula darahnya gagal merespon pemberian ASI
·         Bayi dengan kehilangan cairan akut (misal karena fototerapi untuk jaundice) dan menyusui serta memerah ASI belum bisa mengimbangi kebutuhan cairan
·         Turunnya berat badan bayi berkisar 7 – 10% setelah hari ke 3 – 5 karena terlambatnya laktogenesis II
·         BAB bayi masih berupa mekonium pada hari ke 5 pasca persalinan
Indikasi pada Ibu:
·         Ibu dengan HIV + (keputusan pemberian minum pada bayi sebaiknya melalui proses konseling saat ibu hamil)
·         Ibu sakit berat (psikosis, sepsis, eklamsia atau mengalami renjatan/syok), infeksi virus Herpes Simpleks tipe 1 dengan lesi di payudara, infeksi varicella zoster pada ibu dalam kurun waktu 5 hari sebelum dan 2 hari sesudah melahirkan
·         Ibu mendapat sitostatika, radioaktif tertentu seperti Iodine 131, obat – obatan antitiroid selain Propylthiouracil
·         Ibu pengguna obat terlarang
·         Ibu mengalami kelainan payudara, riwayat operasi pada payudara, atau jaringan payudara tidak berkembang

Kita lihat dari kedua penjelasan di atas maka sebagian besar kondisi di atas terjadi di hari–hari awal kelahiran. Dengan mempertimbangkan keuntungan dan risikonya, keputusan menggunakan suplementasi harusnya berdasarkan penilaian dan evaluasi dari konselor laktasi, dokter anak dan dokter kebidanan mengenai proses menyusui yang meliputi; observasi saat menyusu langsung pada payudara, evaluasi pasokan ASI, riwayat persalinan, evaluasi posisi, pelekatan, kekuatan hisap, kemampuan menelan, dan penilaian kondisi bayi secara menyeluruh. Kondisi pada ibu dan bayi akan menentukan apakah suplementasi ini bersifat sementara atau menetap. Perlu diingat juga, tujuan akhir dari suplementasi ini adalah untuk mempertahankan menyusui.
Hierarki Suplementasi
·         ASI/Kolostrum perah segar dari ibu
·         ASI perah ibu didinginkan
·         ASI perah ibu pernah dibekukan dan sudah dicairkan
·         ASI perah ibu sendiri yang difortifikasi (bila perlu) untuk bayi prematur
·         ASI donor dari Bank ASI dan dipasteurisasi
·         Formula bayi hipoalergenik
·         Formula bayi elemental
·         Formula berbasis susu sapi
·         Formula berbasis soya
·         Air atau air gula
Dari penjelasan di atas serta tujuan akhir suplementasi bisa kita lihat utamanya adalah memaksimalkan produksi ASI ibu baik dalam menyusu langsung, ASI perah segar ataupun sudah dibekukan. Di sini peranan seorang konselor laktasi sangat penting untuk membantu ibu mempertahankan atau bahkan meningkatkan produksi ASInya. Jika dirasa belum cukup, barulah dicarikan tambahan yang bisa berupa ASI donor yang sudah dipasteurisasi ataupun formula bayi, yang diberikan sedemikian rupa sehingga tetap menjaga dan mempertahankan keberlangsungan proses menyusui ibu dan bayi.
ASI Donor di Indonesia
Dalam hierarki suplementasi, ASI donor dari bank ASI dan sudah dipasteurisasi menjadi urutan berikutnya setelah ASI dari ibu si bayi. Hanya saja, di Indonesia tidak ada Bank ASI yang melakukan skrining terhadap pendonor ASI serta kultur dan pasteurisasi terhadap ASI donor.
Lalu bagaimana kita menyikapinya? Meskipun ASI memang yang terbaik bagi bayi, kita tidak bisa menutup mata terhadap kemungkinan ASI terpengaruh dengan penyakit yang diderita atau gaya hidup pendonor ASI (infeksi HIV, Hepatitis B dan C, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, bertato atau body piercing). Apalagi sebagian besar penerima ASI donor adalah bayi baru lahir, bayi prematur atau bahkan bayi sakit.
Ada baiknya bagi ibu yang akan mendonorkan ASInya bagi bayi lain menyeleksi dirinya sendiri dengan hal-hal sebagai berikut:
Tidak Disarankan Mendonorkan ASI:
·         Menerima donor darah atau produk darah lainnya dalam 12 bulan terakhir
·         Menerima transplantasi organ/jaringan dalam 12 bulan terakhir
·         Minum alkohol secara rutin sebanyak 2 ounces atau lebih dalam periode 24 jam
·         Pengguna rutin obat-obatan Over the Counter (aspirin, acetaminophen, dll), pengobatan sistemik lainnya (pengguna kontrasepsi atau hormon pengganti tertentu masih dimungkinkan)
·         Pengguna vitamin megadosis atau obat-obatan herbal
·         Pengguna produk tembakau
·         Memakai implan silikon pada payudara
·         Vegetarian total yang tidak memakai suplementasi vitamin B12
·         Penyalah guna obat-obatan terlarang
·         Riwayat Hepatitis, gangguan sistemik lainnya atau infeksi kronis (contohnya: HIV, HTLV, sifilis, CMV – pada bayi prematur)
·         Beresiko HIV (pasangan HIV positif, mempunyai tato/body piercing)
Disarankan memeriksakan dirinya dan terbukti negatif secara serologis terhadap: HIV-1 dan HIV-2, HTLV-I dan HTLV-II, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis. Pemeriksaan ini juga berguna jika dilakukan setiap ibu yang hamil untuk mencegah penularan penyakit dari ibu ke bayi. Pemeriksaan dan kriteria donor di atas juga perlu diulangi setiap kehamilan atau persalinan baru.
Sedangkan bagi orang tua yang memutuskan menerima ASI donor (tanpa melalui Bank ASI) ada baiknya mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:
·         Bagaimana kondisi kesehatan ibu/pendonor? pola makan terkait religi/keyakinan
·         Apakah uji serologis ibu terhadap HIV, Hepatitis B, HTLV negatif?
·         Apakah ASI tidak tercemar obat, nikotin, alkohol, dsb?
·         Apakah ASI tidak tercampur air, bahan/zat/nutrisi lain?
·         Apakah ASI diperah dan disimpan secara higienis dan tidak terkontaminasi?
·         Apakah jangka waktu penyimpanan dan tempat penyimpanannya sesuai?
·         Bagaimana kondisi bayi ibu/pendonor? usia bayi pendonor <1 th , pernah menderita jaundice saat baru lahir?
Menyiapkan ASI Donor
Jika pada akhirnya diputuskan menggunakan ASI donor yang belum dipasteurisasi, ada 3 teknik perlakuan terhadap ASI yang bisa dilakukan yang biasa mengurangi penularan penyakit (terutama HIV) melalui ASI.
1.        Pasteurisasi Holder
ASI dipanaskan dalam wadah kaca tertutup di suhu 62,5˚C selama 30 menit. Biasanya dilakukan di Bank ASI karena membutuhkan pengukur suhu dan pengukur waktu.
2.      Teknik Flash Heating
ASI sebanyak 50 ml ditaruh dalam botol kaca/botol selai ukuran sktr 450 ml terbuka di dalam panci alumunium berukuran 1 L berisi 450 ml air. Kemudian panci dipanaskan di atas kompor sampai air mendidih, matikan, kemudian botol kaca berisi ASI diangkat dan didiamkan sampai suhunya siap untuk diminum bayi.
3.       Pasteurisasi Pretoria
Panaskan air sebanyak 450 ml di panci alumunium berukuran 1 L sampai mendidih. Matikan kompor. Letakkan botol kaca terbuka yang berisi ASI sebanyak 50ml di dalam panci selama 20 menit. Kemudian angkat dan diamkan sampai suhu ASI siap diminum bayi.
Kalau kita lihat dari 3 teknik tadi, yang paling mungkin dilakukan adalah teknik nomor 2 dan 3. Manapun, pilih yang paling nyaman bagi ibu dan keluarga. Jika donor ASI dilakukan karena bayi sakit di Rumah Sakit, ingatkan perawat untuk melakukan pemanasan ini sebelum memberikan ASI donor kepada bayi anda.
Semoga bisa menjadi pertimbangan bagi ibu yang akan menerima atau mendonorkan ASI. Salam ASI!

Sumber : Astri Pramarini untuk AIMI ( Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia )
fixedbanner