Rabu, 10 Juli 2013

IBU MENYUSUI MENJALANI PUASA DENGAN RASA BAHAGIA




Setiap orang Muslim tentunya tak ingin melewatkan meraih berkah di bulan Ramadan. Namun dilema melanda ibu yang tengah menyusui. Sebuah pertanyaan muncul, bolehkah ibu menyusui tetap berpuasa saat Ramadan ?

Sebetulnya apa salahnya berpuasa saat menyusui ? Dengan rasa percaya diri yang tinggi, tetap puasa saat masih menyusui, bisa dijalani dengan lancar. Bahkan puasa ibu yang menyusui bisa mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Setiap ibu menyusui harus memahami berpuasa hanya mengganti jam makan. Jadi ibu menyusui tetap bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa. Namun, mereka tetap harus memperhatikan asupan nutrisi dan gizinya.

Kalau bayi masih bergantung 100 persen pada ibu dalam artian asupannya hanya ASI, maka jika ibu tidak kuat berpuasa disarankan untuk tidak puasa. Terlebih jika bayi masih berusia di bawah 3 bulan.

Saat memutuskan untuk tetap puasa, ibu harus memperhatikan dan mengetahui kondisi tubuhnya, agar puasa berjalan lancar. Ibu menyusui harus mendapatkan 700 kalori nutrisi tambahan. Sebanyak 500 kalori berasal dari asupan makanan dan 200 dari lemak ibu.

Jika ibu menyusui ingin tetap puasa perhatikan saja asupan nutrisnya. Tapi tidak harus memilih-milih makanan. Semua yang ibu suka dan biasa dimakan, silahkan makan. Ibu hamil atau menyusui tidak ada pantangannya. Intinya makannya biasa saja, seperti hari-hari biasanya. Rincian nutrisinya yakni 50 persen karbohidrat, 30 persen protein, dan 20 persen lemak

Buat Anda para ibu menyusui yang ingin tetap berpuasa, berikut tips dari Asosiasi Ibu Menyusui INA:

* Tetap makan 3 kali sehari
* Jaga asupan gizi yang seimbang
* Tetap berpikiran positif
* Terdiri dari 50 persen karbohidrat
* 30 persen protein dan 20 persen lemak
* Perbanyak minum air putih

Kalau kondisi ibunya fit, happy, apa salahnya mencoba juga dengan berolahraga. Karena dengan olahraga hormon esterogen akan bisa membuat rasa happy/bahagia dan justru akan berdampak memperbanyak ASI.

Ibu menyusui yang juga bekerja pun dapat tetap berpuasa jika mereka yakin menjalankannya. Ibu bisa menabung ASInya, dan ASI diberikan saat ibu bekerja. Bagi ibu yang menggunakan donor ASI pun ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Donor ASI diberikan hanya untuk bayi yang sakit berat atau ibu yang kecelakaan atau meninggal.

Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867

Selasa, 09 Juli 2013

dr Utami Roesli, Pejuang ASI yang Pernah Gagal Menyusui




Rasanya tak ada yang meragukan kegigihan dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM dalam memperjuangkan hak-hak anak untuk mendapat Air Susu Ibu (ASI) ekslusif. Namun siapa sangka, sang pejuang ASI ini juga pernah gagal menyusui kedua anaknya.

Sebagai Ketua Sentra Laktasi Indonesia, wajar jika dr Utami yang lahir tepat sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ini begitu getol mengampanyekan ASI. Baginya, anak manusia tidak sepantasnya diberi susu sapi yang merupakan bahan baku susu formula.

Tak jarang komentar-komentar kakak kandung seniman Harry Roesli (Alm) ini bikin gerah industri susu formula. Baginya bukan hanya bayi di bawah 2 tahun yang tidak butuh susu formula, anak-anak di usia selanjutnya juga lebih membutuhkan gizi seimbang daripada hanya susu saja.

"Untuk anak di atas 2 tahun boleh-boleh saja minum susu formula. Tapi tidak harus (minum susu formula) karena sebenarnya nutrisi di dalam susu formula juga bisa didapat dari makanan lain," ungkap dr Utami seperti yang pernah diberitakan detikHealth sebelumnya.

Ketika dunia persusuan dihebohkan oleh hasil riset Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang susu berbakteri, dr Utami yang sehari-hari berpraktik di Klinik Lakstasi RS St Carolus Salemba juga tetap konsisten menyerukan bahwa susu formula tidak bisa menggantikan ASI.

Berkali-kali cucu dari sastrawan Marah Roesli,-- pengarang roman legendaris "Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai"--, ini menegaskan tidak ada satupun susu formula yang benar-benar steril dari cemaran bakteri. Menurutnya, di mana-mana susu tidak termasuk produk steril.

Karena selalu ada risiko pencemaran bakteri, dr Utami yang wajahnya selalu tampak awet muda sangat menentang pemberian susu formula pada bayi khususnya yang baru lahir. Seperti yang sering ia sampaikan, anak manusia seharusnya mendapat susu eksklusif dari ibunya dan bukan susu formula dari sapi.

"Memang ada beberapa ibu yang tidak bisa menyusui, tapi kebanyakan kendalanya hanya soal informasi. Jadi daripada mengumumkan merek bakteri yang terkontaminasi, lebih baik sebarkan informasi soal pentingnya ASI dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)," kata Dr Utami.

Berangkat dari kepeduliannya terhadap hak-hak bayi untuk mendapat ASI Eksklusif, dr Utami bersama sejumlah tokoh akhirnya mendirikan Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) pada tahun 2003. Sejak saat itu, Selasi sudah beberapa kali menggelar pelatihan kenselor menyusui.

dr Utami Pernah Gagal Menyusui

Meski getol mengampanyekan ASI eksklusif dan mengajarkan Inisiasi Menyusui Dini, dr Utami mengaku pernah gagal untuk menyusui. Bahkan tak cuma sekali, tetapi 2 anaknya tidak ada yang mendapatkan ASI secara ekslusif secara tuntas selama 2 tahun seperti yang ia ajarkan saat ini.

Disela-sela peresmian Klinik Laktasi di RS Puri Cinere, Depok oleh Menteri Kesehatan beberapa waktu yang lalu, dr Utami menceritakan sekelumit kisah kelam yang dialaminya saat membesarkan kedua anaknya. Diakuinya, kegagalan menyusui itu seperti dosa besar yang harus ditanggungnya seumur hidup.

"Saya akui saya pernah gagal. Dua kali melahirkan, ASI saya tidak keluar dan waktu itu sekitar tahun 1970-an, pengetahuan tentang ASI memang tidak ada sehingga saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Saya benar-benar malu dan merasa berdosa sekali. Makanya saya tidak ingin para ibu mengulangi kesalahan saya," ungkap dr Utami kepada wartawan di Depok, seperti ditulis Senin (15/8/2011).

Tak salah jika dr Utami menyebutnya sebagai dosa, karena tak lama kemudian ia mengaku telah mendapat ganjarannya. Gara-gara tidak menyusui anaknya dengan benar, dr Utami sempat didiagnosis kanker payudara meski akhirnya bisa sembuh tanpa harus operasi.

Beruntung bagi dr Utami, dosa itu tidak harus ditanggung oleh anak-anaknya yang akhirnya tumbuh menjadi orang sukses tanpa mengalami gangguan kesehatan. Salah seorang anaknya, Andi Syarief adalah seorang pengusaha yang menikahi mantan model Playboy asal Indonesia, Tiara Lestari dan dikaruniai 2 anak namun keduanya sudah bercerai.

BIODATA

Nama
dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM

Tempat dan tanggal lahir
Semarang, 17 September 1945

Nama Orangtua
Mayjen Purn Roeshan Roesli (ayah)
dr Edyana Roesli, SpA (ibu)

Saudara kandung
dr Ratwini Roesli, SpTHT
dr Rully MA Roesli, SpPD.KGH (ahli ginjal)
Alm. Harry Roesli (musisi kontemporer)

Status
Menikah, dikaruniai 2 anak dan 3 cucu

Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung (Lulus 1972)
Pendidikan Spesialis Anak FK Unpad Bandung (Lulus 1980)
Master Business Administration, University of the City of Manila, Filipina (Lulus 1994)

Pendidikan tambahan
Pendidikan neonatologi di Sint Raadbout Hospital, Nijmegen, Belanda tahun 1987
Sertifikasi konsultan laktasi dari International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC) tahun 2001 dan disertifikasi ulang tahun 2006
Meraih gelar Fellow of Academic Breastfeeding Medicine (FABM) dari American Academic Breastfeeding Medicine tahun 2008

Penghargaan
Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya 20 tahun dari Presiden RI Prof DR Ing BJ Habibie tahun 1999
Tanda penghargaan Bakti Karya Husada Tri Windu dari Menteri Kesehatan RI, Prof Dr FA Moeloek tahun 1999
Tanda Penghargaan Ksatria Bakti Husada ARUTALA dalam pembangunan nasional di bidang kesehatan dari Menteri Kesehatan RI, Dr Achmad Sujudi tahun 2001
Piagam Penghargaan atas peran serta aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan Pekan ASI Se-dunia tahun 2006 dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2006
Penghargaan sebagai tokoh yang konsisten dalam pengembangan program ASI eksklusif dari IDAI cabang DKI Jakarta tahun 2006
Tanda penghargaan Wahidin Sudirohusodo atas jasanya dalam pengembangan program ASI eksklusif dari IDI tahun 2006
Dilantik sebagai Duta IDI tahun 2007-2008.

Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867

IBU MENYUSUI BISA PUASA




Ibu menyusui bisa saja ikut berpuasa. Namun, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kebutuhan bayi tetap tercukupi dan ibu pun tetap nyaman berpuasa.
  • Puasa sebaiknya dilakukan ketika bayi sudah berumur 6 bulan. Dimana bayi sudah tidak lagi mendapat ASI eksklusif.
  • Konsultasikan pada dokter, bila Anda ingin berpuasa sementara bayi masih berusia di bawah 6 bulan. Selama bayi nyaman, kebutuhan makanannya tercukupi dan berat badannya berkembang sesuai dengan usianya, puasa sebenarnya boleh saja.
  • Pada dasarnya, kapan saja bayi bisa menyusu meskipun Anda berpuasa. Namun ketika berpuasa produksi ASI berkurang, sementara ASI berlimpah setelah Anda berbuka. Hal ini disebabkan oleh hormon oksitosin. Karenanya, usahakan bayi lebih banyak menyusu saat malam setelah berbuka hingga waktu sahur.
  • Pastikan ibu makan tiga kali sehari, yaitu saat sahur, ketika berbuka puasa dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih. Ibu menyusui perlu mengonsumsi 50% karbohidrat, 30% protein, 20% lemak tiap kali makan, untuk hasilkan ASI berkualitas.
  • Ibu berpuasa akan lemas setelah menyusui. Istirahat sejenak akan mengembalikan energi. Selain itu istirahat juga akan mengembalikan kondisi psikologis ibu sehingga produksi ASI tetap lancar.
  • Saat berpuasa, cairan tubuh berkurang 2-3%. Banyak minum air putih saat berbuka dan sahur.
  • Jika alarm tubuh  mengisyaratkan harus berhenti puasa, tidak usah terlalu memaksakan diri.
Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867

Senin, 08 Juli 2013

SUKSES MENYUSUI DENGAN CARA YANG BENAR




Saat inisiasi menyusu dini (IMD), tak masalah jika ASI belum keluar. Keluarga diharapkan bisa memberikan dukungan kepada ibu yang baru melahirkan. Hindari stres agar tidak menekan hormone prolactin yang berguna menghasilkan ASI.


Selanjutnya ketika ASI sudah keluar, perhatikan posisi menyusui. Banyak ibu tidak mengetahui posisi menyusui yang nyaman dan aman bagi bayi. Padahal, faktor ini sangat menentukan prestasi menyusui. Jangan biarkan bayi terlalu mendongak atau menunduk saat menyusu agar proses buka tutup katup pernapasannya tidak terhalang.

Ketika menyusui, ibu dapat sambil miring ke samping, telentang, atau tegak. Dalam posisi demikian, proses mengisap berlangsung dengan baik. Kesuksesan menyusu akan mempengaruhi kemampuan makanan anak kelak. Anak yang mudah muntah saat makan umumnya dulu tidak terbiasa menyusu dari puting ibu. Padahal dengan menyusu langsung berarti ia telah melatih mulut dan rahangnya.

Selain itu, hingga usia empat bulan, bayi masih menelan dan bernafas secara bersamaan. Ia perlu menyusu agar dapat berlatih memisahkan kedua aktifitas tersebut. Pergerakan lidah dan mulut ketika menyusu juga mempengaruhi bicara anak ke depannya. Bagaimana dengan pengunaan dot ? Sebaiknya, bayi tidak diperkenalkan dengan dot hingga ia terampil menyusu langsung melalui puting ibunya.

Selama menyusui terjadi kontak kulit bayi dengan kulit bundanya. Anak akan mengenali nafas sang bunda, denyut jantungnya, hingga wangi badannya. Proses kasih saying ibu dan anak pun berlangsung. Dihimbau pula ibu yang tengah sakit untuk tidak serta merta menghentikan pemberian ASI.

Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867

fixedbanner