Rasanya
tak ada yang meragukan kegigihan dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM dalam
memperjuangkan hak-hak anak untuk mendapat Air Susu Ibu (ASI) ekslusif. Namun
siapa sangka, sang pejuang ASI ini juga pernah gagal menyusui kedua anaknya.
Sebagai Ketua Sentra Laktasi Indonesia, wajar jika dr Utami yang lahir tepat
sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ini begitu getol mengampanyekan
ASI. Baginya, anak manusia tidak sepantasnya diberi susu sapi yang merupakan
bahan baku susu formula.
Tak jarang komentar-komentar kakak kandung seniman Harry Roesli (Alm) ini bikin
gerah industri susu formula. Baginya bukan hanya bayi di bawah 2 tahun yang
tidak butuh susu formula, anak-anak di usia selanjutnya juga lebih membutuhkan
gizi seimbang daripada hanya susu saja.
"Untuk anak di atas 2 tahun boleh-boleh saja minum susu formula. Tapi
tidak harus (minum susu formula) karena sebenarnya nutrisi di dalam susu
formula juga bisa didapat dari makanan lain," ungkap dr Utami seperti yang
pernah diberitakan detikHealth sebelumnya.
Ketika dunia persusuan dihebohkan oleh hasil riset Institut Pertanian Bogor
(IPB) tentang susu berbakteri, dr Utami yang sehari-hari berpraktik di Klinik
Lakstasi RS St Carolus Salemba juga tetap konsisten menyerukan bahwa susu
formula tidak bisa menggantikan ASI.
Berkali-kali cucu dari sastrawan Marah Roesli,-- pengarang roman legendaris
"Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai"--, ini menegaskan tidak ada satupun
susu formula yang benar-benar steril dari cemaran bakteri. Menurutnya, di
mana-mana susu tidak termasuk produk steril.
Karena selalu ada risiko pencemaran bakteri, dr Utami yang wajahnya selalu
tampak awet muda sangat menentang pemberian susu formula pada bayi khususnya
yang baru lahir. Seperti yang sering ia sampaikan, anak manusia seharusnya
mendapat susu eksklusif dari ibunya dan bukan susu formula dari sapi.
"Memang ada beberapa ibu yang tidak bisa menyusui, tapi kebanyakan
kendalanya hanya soal informasi. Jadi daripada mengumumkan merek bakteri yang
terkontaminasi, lebih baik sebarkan informasi soal pentingnya ASI dan Inisiasi
Menyusui Dini (IMD)," kata Dr Utami.
Berangkat dari kepeduliannya terhadap hak-hak bayi untuk mendapat ASI
Eksklusif, dr Utami bersama sejumlah tokoh akhirnya mendirikan Sentra Laktasi
Indonesia (Selasi) pada tahun 2003. Sejak saat itu, Selasi sudah beberapa kali
menggelar pelatihan kenselor menyusui.
dr Utami Pernah Gagal Menyusui
Meski getol mengampanyekan ASI eksklusif dan mengajarkan Inisiasi Menyusui
Dini, dr Utami mengaku pernah gagal untuk menyusui. Bahkan tak cuma sekali,
tetapi 2 anaknya tidak ada yang mendapatkan ASI secara ekslusif secara tuntas
selama 2 tahun seperti yang ia ajarkan saat ini.
Disela-sela peresmian Klinik Laktasi di RS Puri Cinere, Depok oleh Menteri
Kesehatan beberapa waktu yang lalu, dr Utami menceritakan sekelumit kisah kelam
yang dialaminya saat membesarkan kedua anaknya. Diakuinya, kegagalan menyusui
itu seperti dosa besar yang harus ditanggungnya seumur hidup.
"Saya akui saya pernah gagal. Dua kali melahirkan, ASI saya tidak keluar
dan waktu itu sekitar tahun 1970-an, pengetahuan tentang ASI memang tidak ada
sehingga saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Saya benar-benar malu dan
merasa berdosa sekali. Makanya saya tidak ingin para ibu mengulangi kesalahan
saya," ungkap dr Utami kepada wartawan di Depok, seperti ditulis Senin
(15/8/2011).
Tak salah jika dr Utami menyebutnya sebagai dosa, karena tak lama kemudian ia
mengaku telah mendapat ganjarannya. Gara-gara tidak menyusui anaknya dengan
benar, dr Utami sempat didiagnosis kanker payudara meski akhirnya bisa sembuh
tanpa harus operasi.
Beruntung bagi dr Utami, dosa itu tidak harus ditanggung oleh anak-anaknya yang
akhirnya tumbuh menjadi orang sukses tanpa mengalami gangguan kesehatan. Salah
seorang anaknya, Andi Syarief adalah seorang pengusaha yang menikahi mantan
model Playboy asal Indonesia, Tiara Lestari dan dikaruniai 2 anak namun
keduanya sudah bercerai.
BIODATA
Nama
dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM
Tempat dan tanggal lahir
Semarang,
17 September 1945
Nama Orangtua
Mayjen
Purn Roeshan Roesli (ayah)
dr
Edyana Roesli, SpA (ibu)
Saudara kandung
dr
Ratwini Roesli, SpTHT
dr
Rully MA Roesli, SpPD.KGH (ahli ginjal)
Alm.
Harry Roesli (musisi kontemporer)
Status
Menikah, dikaruniai 2 anak dan 3 cucu
Pendidikan
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung (Lulus 1972)
Pendidikan
Spesialis Anak FK Unpad Bandung (Lulus 1980)
Master
Business Administration, University of the City of Manila, Filipina (Lulus
1994)
Pendidikan tambahan
Pendidikan
neonatologi di Sint Raadbout Hospital, Nijmegen, Belanda tahun 1987
Sertifikasi
konsultan laktasi dari International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC)
tahun 2001 dan disertifikasi ulang tahun 2006
Meraih
gelar Fellow of Academic Breastfeeding Medicine (FABM) dari American Academic
Breastfeeding Medicine tahun 2008
Penghargaan
Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya 20 tahun dari Presiden RI Prof DR Ing BJ
Habibie tahun 1999
Tanda
penghargaan Bakti Karya Husada Tri Windu dari Menteri Kesehatan RI, Prof Dr FA
Moeloek tahun 1999
Tanda
Penghargaan Ksatria Bakti Husada ARUTALA dalam pembangunan nasional di bidang
kesehatan dari Menteri Kesehatan RI, Dr Achmad Sujudi tahun 2001
Piagam
Penghargaan atas peran serta aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan Pekan ASI
Se-dunia tahun 2006 dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2006
Penghargaan
sebagai tokoh yang konsisten dalam pengembangan program ASI eksklusif dari IDAI
cabang DKI Jakarta tahun 2006
Tanda
penghargaan Wahidin Sudirohusodo atas jasanya dalam pengembangan program ASI
eksklusif dari IDI tahun 2006
Dilantik
sebagai Duta IDI tahun 2007-2008.
Kurir
ASI Jakarta by amura courier :
solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867