Minggu, 02 November 2014

BABY BLUES SYNDROME : Sudah Siapkah Anda Memiliki Bayi ?




Tiga atau empat hari usai melahirkan, biasanya wanita akan mengalami masa menjadi sensitif dan mudah lelah. Ketika memasuki hari ke 14, barulah bisa mulai fokus mengurus bayinya. Secara perlahan, rasa gundah yang menghantui pun hilang, berganti dengan kesibukan menjalani kehidupan sebagai seorang ibu. Kondisi ini dinamakan Baby Blues Syndrome (BBS) atau yang juga dikenal sebagai Pospartum Distress Syndrome (PDS). Keduanya merupakan gangguan emosi ringan yang terjadi dalam kurun waktu 2 minggu setelah ibu melahirkan.

Data penelitian menunjukkan dua per tiga atau sekitar 50 – 75 persen wanita mengalami BBS, yakni munculnya perasaan gundah gulana atau sedih yang dialami para ibu usai melahirkan. Umumnya terjadi pada 14 hari setelah melahirkan dan cenderung memburuk pada hari ke 3 atau 4. BBS biasanya terjadi karena usai melahirkan kondisi ibu mengalami kelelahan dan dirinya bergejolak karena pengaruh hormon. Hal itu juga berpengaruh ke emosi hingga perilakunya menjadi tidak sabar. Meski demikian, tak sedikit juga ibu yang tidak mengalami BBS. Hal itu mungkin karena kondisi ibu lebih siap dan mengerti apa yang bakal terjadi usai melahirkan sehingga pikirannya lebih tenang.

Kendala yang umum memicu BBS di antaranya adalah kesulitan menyesuaikan diri. Bila dulu hidup hanya bersama pasangan, sementara sekarang memiliki bayi. Akibatnya, banyak kegiatan yang harus berubah karena menyesuaikan dengan bayi. Terutama jam tidur. Setelah melahirkan, memang banyak hal yang harus dikerjakan dan disesuaikan dalam satu waktu. Sesiap apa pun seorang ibu, tetap saja masih ada rasa tak siapnya. Namun, justru dari ketidaksiapan tersebut, ibu akan belajar menerima. Jika sudah bisa menerima, selanjutnya akan lebih baik sehingga bisa merawat anak dengan tulus. Mengurus bayi, memang tidak semudah yang dipikirkan. Sehingga ada perasaan bersalah pada diri sendiri atau merasa tidak dihargai atas apa yang dilakukan. Pada beberapa ibu, bahkan ada yang merasa kelahiran si bayi membuat dirinya sakit. Sehingga mendatangkan perasaan sebal dan benci saat melihat anak.

Jika BBS yang terjadi melebihi batas normal alias lebih dari 2 minggu, sudah sepatutnya sang ibu berkonsultasi dengan dokter. Pasalnya dikhawatirkan ibu mengalami Postpartun Depression (PPD). Perbedaan PPD dengan BBS terletak pada frekuensi, intensitas, serta durasi berlangsungnya gejala-gejala. Pada PPD, gejala yang dirasakan itu aka terjadi lebih sering, lebih hebat, serta lebih lama. Gejala PPD ditunjukkan melalui perilaku cepat marah, bingung, mudah panik, merasa putus asa, perubahan pola makan dan tidur, takut bisa menyakiti bayinya, khawatir tidak bisa merawat bayi dengan baik, hingga timbul perasaan tidak bisa menjadi ibu yang baik. Bahkan PPD bisa berlangsung hingga 1 tahun setelah kelahiran bayi.

Faktor fisiologis dan psikologis bisa menjadi penyebab BBS dan PPD. Faktor fisiologis itu dari pengaruh hormon karena perubahan fisik dan non fisik, baik saat hamil dan setelah melahirkan. Perubahan tersebut mempengaruhi perasaan ibu sehingga mengalami rasa lelah, depresi, dan penurunan mood. Sedangkan faktor psikologis, karena ia menyadari hadirnya si kecil harus diawasi, diperhatikan, diasuh siang dan malam, sehingga sangat meletihkan dan mengurangi waktu istirahat. Lebih lanjut, ini bisa memicu depresi. Ibu bisa merasakan kecemasan atas masa depan anak. Apakah ia akan mampu membesarkan anak dengan baik atau tidak.

 
Selain itu, ternyata seorang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan di bawah normal cenderung berpeluang lebih besar mengalami BBS jika dibandingkan ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan normal. Pasalnya, seorang ibu pasti berharap bayi yang baru lahir akan tidak nyenyak di malam hari. Jika ternyata yang terjadi malah sebaliknya, yaitu bayi terus menangis atau sang ibu mengalami trauma melahirkan dan mengandung, maka bisa memicu juga.

BBS bisa diatasi dengan dukungan suami selama proses kehamilan, melahirkan, dan menyusui. Ketika ingin bercerita atau menangis, calon ibu juga perlu menangis, tak perlu di tahan-tahan. Saat istri mengekuh, sebaiknya suami jangan malah dimarahi, karena itu artinya istri butuh ditemani dan didampingi. Beri pelukan, misalnya, tentu akan menenangkan. Jangan lupa pula berbagi tugas untuk meringankan bebannya. Dengan memberi kekuatan, maka istri akan lebih mudah menghadapi proses kehamilannya dan tak lagi merasa sendirian. Selain itu, support dari orangtua dan keluarga pun sangat menentukan. Tidak perlu terlalu banyak memberi saran, cukup dengan memberikan dukungan. Jika semua bisa dilewati, pasangan akan menjalani segalanya dengan mudah.

Selain itu, perlu juga untuk menyiapkan kematangan fisik dan mental sebelum melahirkan. Sehingga, mental lebih terasa tatkala buah hati terlahir ke dunia. Lengkapi pengetahuan seputar perawatan dan kesehatan bayi agar siap menghadapinya. Jangan lupa beristirahat selagi ada kesempatan. Mintalah bantuan suami atau keluarga lain. Jika perlu, berbagi pengalaman dengan ibu-ibu yang juga tengah mengandung. Tentu dengan orang yang dirasa nyaman untuk bertukar pikiran. Pasalnya, berbagi pengalaman dengan orang yang tepat dan supportive, dipercaya dapat mengurangi beban ibu usai melahirkan. Perhatikan juga pola makan. Jaga kebutuhan nutrisi dan vitamin agar sehat serta kualitas ASI terpenuhi.

AYAH PUN JUGA BISA MENGALAMI.


Ya, ternyata bukan hanya pihak ibu yang bisa mengalami depresi usai kelahiran sang buah hati. Pasalnya, satu di antara sepuluh ayah ternyata mengalami Post Natal Depression (PND). Depresi yang umumnya hinggap pada 3-6 bulan setelah kelahiran bayi ini, disebabkan karena ayah pun sebenarnya juga membutuhkan dukungan, dorongan, keyakinan, dan tempat yang aman.


Berbeda dengan BBS yang terkait dengan perubahan hormonal setelah ibu melahirkan, PND dapat terjadi lebih lama dari BBS. Penyebab paling umum karena kekhawatiran tentang tanggung jawab baru, stres dengan biaya yang harus dikeluarkan, serta kecemasan tentang peran baru sebagai ayah. Stres akan lebih buruk karena laki-laki terbiasa untuk berbicara tentang perasaan dan ketakutannya. Bagi para suami yang mengalaminya, meski awalnya memang pasti sulit, tapi cobalah berbicara dengan pasangan, anggota keluarga lain, atau teman. Jika tidak membaik setelah beberapa minggu, segera minta bantuan ke dokter.


Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867


JANIN SEHAT KUNCI GENERASI HEBAT




Masa depan anak ditentukan sejak anak dalam kandungan. Pasalnya bila asupan gizi kurang, dampaknya akan permanen dan sulit diperbaiki.


Perkembangan anak ditentukan mulai dari seribu hari pertama kehidupan. Artinya, selama 270 hari atau 9 bulan dalam kandungan, serta 730 hari atau 2 tahun pertama setelah anak lahir ke dunia, merupakan saat-saat pesat perkembangannya. Saat dalam kandungan, 8 minggu pertama adalah saat terbentuknya otak, hati, jantung, ginjal, tulang, tangan, dan kaki.


Gangguan gizi dalam janin, faktanya sangat dipengaruhi oleh status gisi sang Ibu. Apakah selama kehamilan mengalami pertambahan berat badan yang kurang optimal atau sebaliknya ? Jika kurang optimal, ada kemungkinan melahirkan bayi yang tumbuhnya tidak optimal pula. Sepanjang waktu tersebut memang menjadi sangat penting, mengingat kekurangan gizi akan memberikan dampak permanen dan sulit diperbaiki. Misalnya saja, anak lahir dengan tubuh pendek atau kurang cerdas dan kurang tangkas pada usia dewasa. Selain itu, anak juga lebih beresiko mengalami penyakit kronis mulai dari jantung, hipertensi, diabetes, dan stroke.


Ibarat karet yang bisa melar, pertumbuhan janin di dalam tubuh mempunyai kapasitas yang sangat elastis. Jika disuruh menyesuaikan diri dengan konsumsi makanan di dalam, janin akan menyesuaikan diri. Otomatis kalau makanan ibu kurang dalam jangka waktu lama, akibatnya, agar makanan tersebut mencukupi, maka janin akan berhemat dan akan terbiasa makan sedikit. Jika setelah melahirkan lingkungan yang dihadapinya malah berbeda, misalnya malah mendapatkan makanan yang berlebihan, maka akan terjadi mismatch. Akibatnya, tubuh pun akan menjadi kegemukan.


Intervensi yang cocok dampaknya akan berlaku sampai 100 tahun kemudian atau sampai ke anak cucu. Maka jika gizi kurang, pengaruhnya tak hanya berhenti sampai satu generasi, melainkan hingga tiga generasi. Pasalnya, peran gen atau keturunan tidak semata-mata disebabkan oleh interaksi lingkungan, melainkan juga sebagai manifestasi interaksi genetik, kondisi gizi, metabolik, dan hormonalnya pada periode kritis awal kehidupan. Sebagai contoh, maternal overweight, diabetes gestasional, dan pemberian makan berlebihan pada neonatal, yang akan meningkatkan resiko disposisi epigenetik pada masa perinatal untuk penyakit obesitas, diabetes, metabolic syndrome, dan penyakit pembuluh darah jantung.


Lalu, bagaimana dengan kondisi di Indonesia ? Faktanya, orang bertubuh pendek ditemukan lebih banyak pada kelompok ekonomi rendah dibanding kelompok dengan penghasilan ekonomi tinggi. Akan tetapi, kelompok dengan ekonomi tinggi pun ternyata berkaitan dengan berat badan yang berlebihan pula. Kelebihan berat badan memang saat ini lebih tinggi terjadi pada kelompok ekonomi tinggi atau biasa disebut kelompok terkaya, tetapi angka kasus kelebihan berat badan pada kelompok termiskin pun saat ini juga sudah mulai tinggi. Dengan kata lain, penyakit tidak menular ini tidak disebabkan oleh perubahan gaya hidup saja, karena prelevansinya yang yang meningkat tinggi ini sudah tidak bisa dibedakan antara kelompok miskin dan kaya.


Hipertensi dan diabetes, misalnya, yang semula dianggap penyakit orang kaya, ternyata dialami juga oleh orang dengan status ekonomi rendah. Di lain sisi, timbul pula pertanyaan mengenai malnutrisi pada balita yang disebut-sebut disebabkan oleh kemiskinan. Bisa jadi itu memang berhubungan. Karena angka kasusnya memang lebih tinggi pada orang dengan status ekonomi rendah. Tetapi pada yang kaya kasus ini juga terjadi. Angka kasus hipertensi pada status ekonomi tinggi dan rendah, hanya selisih 2,5 persen. Pada kelompok ekonomi rendah adalah 30,5 persen, sementara pada kelompok ekonomi tinggi adalah 33 persen. Pada jantung, selisihnya adalah 1,5 persen dan untuk stroke selisih 2 persen. Oleh karena itu, gerakan peningkatan upaya gizi adalah masalah yang paling serius tapi paling sedikit mendapat perhatian. Padahal dampaknya bisa langsung terasa terhadap kualitas sumber daya manusia. Gizi, ibaratnya adalah tong sampah sampah dari berbagai permasalahan.


Lalu, bagaimana agar gizi anak terpenuhi dengan baik ? Itulah pentingnya dukungan keluarga dan budaya untuk pemenuhan gizi pada awal kehidupan anak. Dan yang perlu diingat, peran nenek pun juga berkontribusi dalam pemberian makanan untuk anak. Karena di daerah tertentu, kerap yang memberikan makanan untuk anak kita adalah si nenek, bukan ibunya sendiri. Dan seringnya nenek menyamakan menu makanan anak-anak dengan orang dewasa. Hal itu pula yang ia lakukan pada cucunya. Bahkan ini juga diperkuat oleh kepercayaan yang masih kuat di sebagian masyarakat. Misalnya, makan telur tidak baik, makan ikan tidak boleh karena bayinya akan berbau amis, atau bayi diberi makan nasi yang terlebih dahulu dikunyah neneknya. Akibatnya, anak malah mendapat ampas.


Di samping itu, hal-hal yang juga sangat mempengaruhi perkembangan anak mencakup pola pengasuhan, keteladanan, pendidikan, komunikasi, relasi dalam keluarga, kebiasaan dan pola makan keluarga, peran kerabat, komunitas, serta sekolah. Jangan heran, ada keluarga yang menyiapkan makanan siap saji mulai dari sarapan sampai makan malam. Lebih lanjut, perlu juga ada perhatian dan dukungan terhadap anak mulai dari pemberian ASI atau makanan pendamping anak. Lalu rasakan psikososial pada anak, persiapan dan penyimpanan makanan, praktik kebersihan dan sanitasi lingkungan, serta perawatan anak dalam keadaan sakit pun juga menentukan.


Sejatinya, pengasuhan adalah upaya dari lingkungan agar kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang dapat terpenuhi dengan baik dan benar. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Ini juga harus diimbangi dengan meluruskan anggapan-anggapan salah yang selama ini berakar di masyarakat. Contohnya, bahwa makan hanya untuk menghilangkan lapar sehingga kenyang, pemberian makan supaya anak tidak rewel, anak menangis sebagai pertanda lapar, anak laki-laki makan lebih banyak daripada anak perempuan, atau kuantitas makanan lebih penting daripada kualitas, adalah anggapan salah yang harus dihilangkan.


Perlu disadari bahwa ibu bukanlah satu-satunya yang memegang peran penting terhadap perkembangan anak, karena peran ayah pun tak kalah pentingnya. Selama ini pemberian makan sering dianggap urusan ibu karena yang melahirkan. Namun, semua ini adalah tanggung jawab bersama untuk saling mendukung. Siapkan gizi yang baik mulai dari kehamilan. Kondisi yang nyaman akan berpengaruh pada masa depan bayi selanjutnya.


Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867



Senin, 20 Oktober 2014

Mengajak Balita Tidur Siang




Membiasakan anak tidur di siang hari memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang buah hati. Tapi, tak mudah untuk mengajak anak untuk masuk kamar dan tidur siang. Dorongan anak untuk tidak mau berhenti bermain salah satu penyebab anak menjadi sulit diajak tidur siang. Hatinya masih terus terdorong untuk terus bermain sepanjang hari. Godaan bermain anak zaman sekarang jauh lebih besar dan lebih beragam sehingga agenda tidur siang tak menarik untuk mereka. Tugas orangtua adalah menaklukan kesulitan tersebut demi kebaikan buah hati.

Tidur siang bermanfaat bagi pertumbuhan anak.

Baik pertumbuhan fisik sehingga anak dapat tumbuh optimal, maupun optimalisasi perkembangan otak yang membuat anak meraih kecerdasan optimal. Tentu ada bedanya anak yang terbiasa tidur siang dibanding anak yang sejak kecil tidak dibiasakan tidur siang. Tidur siang selain mencukupi kebutuhan tidur sesuai dengan umur, juga merupakan masa bertumbuh. Dengan bertumbuhnya organ otak selama waktu tidur, berarti meningkat pula perkembangan kecerdasannya.

Lebih lanjut kebiasaan tidur siang memang sudah harus dibentuk sejak masa bayi mula. Caranya dengan menerapkan kedisiplinan mengajak anak tidur siang. Pada jam tidur siang yang tetap waktunya, anak diajak masuk kamar, dan suasana rumah dibangun terasa kondusif untuk tidur. Awalnya mungkin tidak mudah, namun jika kebiasaan tidur siang sudah berhasil terbentuk, selanjutnya tidak sulit mengajak anak tidur siang. Malah kemudian anak sudah minta tidur siang. Ini penting mengingat manfaatnya, dapat lebih mengoptimalisasi pertumbuhan anak.

Untuk lebih memudahkan membawa anak jatuh tidur siang, biarkan fisiknya lebih aktif selama pagi hari. Semakin letih tubuhnya bermain sepanjang hari, semakin mudah mengajaknya tidur pada siang harinya. Tidur siang sendiri tak perlu lama. Cukup satu satu-dua jam asal tidurnya lelap. Bukan lamanya tidur yang menentukan kualitas tidur, melainkan lelap tidaknya sebuah tidur. Tidur satu jam dan lelap lebih berkualitas ketimbang tidur lebih dari satu jam namun tidak lelap.



Kurir ASI Jakarta by
amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867


Minggu, 19 Oktober 2014

Imunisasi Di Masa Kehamilan




Imunisasi yang dilakukan sebelum dan selama kehamilan merupakan tindakan preventif untuk meningkatkan kekebalan tubuh ibu terhadap infeksi parasit, bakteri, dan virus. Namun dokter tidak akan merekomendasikan pemberian vaksin dari virus yang hidup. Alasannya, selama hamil daya tahan tubuh ibu sedikit menurun sehingga pemberian vaksin hidup dikhawatirkan malah menyebabkan infeksi dan membahayakan janin. Imunisasi boleh diberikan jika vaksinnya mengandung virus mati atau tidak aktif. Berikut imunisasi yang diberikan di masa kehamilan:

1. Tetanus Toksoid (TT)

Di banyak negara, kaum ibu melahirkan dalam kondisi tidak higienis. Hal ini berisiko menimbulkan infeksi oleh kuman tetanus pada ibu dan bayi hingga jiwa mereka terancam. Rahim ibu melahirkan rentan terinfeksi kuman tetanus, sedangkan pada bayi infeksi ini dimulai dari luka pada tali pusatnya. Bakteri Klostridium tetanus pada bayi baru lahir dapat menimbulkan penyakit tetanus neonatorum yang dapat mengakibatkan kematian. Bakteri atau spora tetanus tumbuh dalam luka yang tidak steril. Misalnya, jika tali pusat dipotong dengan pisau yang tidak tajam dan tidak steril, atau jika benda apa pun yang tidak bersih menyentuh ujung tali pusat.

Semua ibu hamil harus memastikan mereka telah mendapat imunisasi tetanus toksoid (TT) untuk menghindari jangkitan tetanus yang berisiko pada diri dan bayinya. Walaupun sudah mendapatkan imunisasi sebelumnya, ibu membutuhkan tambahan vaksin tetanus toksoid yang biasanya dianjurkan menjelang pernikahan. Bila terlewat, bisa diberikan saat ibu hamil sebanyak dua kali dengan jarak 1 sampai 2 bulan. Menjelang waktu persalinan, imunisasi ini harus sudah lengkap. Karenanya,  di masa hamil, imunisasi ini dilakukan di usia kehamilan 7 bulan, kemudian 8 bulan, dan dapat diulangi tiga tahun kemudian. Setelah diimunisasi, ibu biasanya mengalami  demam ringan meski sangat jarang terjadi, agak nyeri, dan sedikit bengkak pada daerah bekas suntikan. Sesudah persalinan, ibu juga harus memastikan bahwa luka di vagina atau perutnya (akibat sesar) dalam keadaan bersih. Begitu pula tali pusat bayinya.

2. Influenza

Sebuah penelitian terhadap 340 ibu hamil di Bangladesh yang mendapatkan suntikan vaksin flu menunjukkan ibu-ibu tersebut memiliki bayi yang lebih tahan terhadap influenza. Hanya ditemukan tiga kasus flu ketika usia bayi mereka masih di bawah enam bulan. Padahal tidak pernah terbukti sebelumnya bahwa imunisasi terhadap ibu hamil memberikan keuntungan besar kepada bayinya. Di Amerika, hanya 14% ibu hamil yang menjalani imunisasi ini. Angka ini terpaut tidak jauh dibandingkan di negara miskin dimana akses kesehatan terbatas. Di banyak daerah, program ini telah banyak diberikan kepada ibu  hamil termasuk suntikan antitetanus. Mereka seharusnya menambahkan vaksin influenza.

Hasil ini mendukung rekomendasi Badan Kesehatan Dunia  (WHO) bahwa ibu hamil seharusnya mendapatkan imunisasi influenza untuk melindungi dirinya dan calon anaknya.  Infeksi ini meningkat risikonya pada ibu hamil dan bayi yang kurang gizi. Menurut sebuah laporan dalam jurnal medis di Inggris tahun 2005, rata-rata kematian akibat flu masih tinggi untuk bayi usia di bawah enam bulan. Sedangkan di Indonesia, penyakit influenza sering dianggap biasa. Padahal bisa mengganggu kesehatan ibu dan janin. 

Pemberian imunisasi influenza diberikan pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Setelahnya, ibu mungkin mengalami demam ringan, bengkak, dan kemerahan di daerah bekas suntikan. Lakukan imunisasi saat tubuh benar-benar dalam keadaan sehat. Setelah melakukan imunisasi, lakukan cukup istirahat, makan  makanan bergizi, dan jangan dekati orang yang sedang terkena influenza karena akan mudah tertular. Sempatkanlah memeriksakan diri ke dokter jika ibu mengidap flu untuk memastikan flu tersebut tidak membahayakan.

3. Hepatitis B

Umumnya seseorang tidak langsung menyadari bahwa dirinya terinfeksi virus hepatitis B. Bahayanya, janin bisa ikut tertular ketika menjalani proses kelahiran. Karenanya, imunisasi hepatitis B sangat perlu bagi ibu hamil. Bayi baru lahir pun diwajibkan segera mendapat imunisasi Hepatitis B. Vaksin Hepatitis B terbuat dari bahan rekombinan yaitu vaksin yang dibuat dengan bahan rekayasa genetika sehingga menyerupai virus Hepatitis B. Vaksin ini aman diberikan kepada ibu hamil. Waktu pemberian imunisasi ini adalah pada kehamilan bulan pertama, kedua, dan keenam.

Ibu hamil akan diperiksa kadar HbsAg dan Anti-Hbs-nya (reaksi antigen-antibodi). Jika hasil Anti-HbsAg-nya positif, ibu tak perlu imunisasi lagi karena sudah mempunyai zat antobodi/kekebalan hepatitis B. Biasanya setelah imunisasi, timbul demam ringan dan nyeri pada bekas suntikan. Bila tidak ada infeksi dan belum mempunyai antibodi, maka vaksin hepatitis B dapat diberikan kepada ibu hamil.

4. Meningococcal

Vaksin pencegah meningitis atau radang selaput otak ini terbuat dari bakteri meningococcal yang sudah mati/tidak aktif sehingga aman untuk ibu hamil. Apabila ibu hamil menderita meningitis, maka kumannya pun dapat menjalar ke otak janin.

Pada ibu hamil, imunisasi ini sebaiknya diberikan setelah trimester pertama untuk menghindari risiko umum yang terjadi pada kehamilan trimester pertama seperti keguguran. Sebaiknya, lakukan imunisasi ini saat tubuh benar-benar sehat meski pada beberapa orang hanya akan muncul demam ringan.



Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867
fixedbanner