Minggu, 21 Oktober 2012

MUNGKINKAH HAMIL LAGI SETELAH KEGUGURAN ?




Keguguran memang membekas kenangan pahit terhadap perempuan yang mengalaminya. Beberapa dari mereka telah berhasil bangkit, bisa kembali hamil, lalu melahirkan buah hati yang sehat. Tetapi sebagian juga mengalami kesulitan dalam melakukan pembuahan lagi. Tentu ini membuat pertanyaan tersendiri bagi para wanita : apakah keguguran bisa menyebabkan mereka mengalami kesulitan untuk hamil lagi?

Keguguran pada wanita terjadi pada sekitar 20 persen kehamilan. Namun, keguguran tidak mempengaruhi kemampuan perempuan untuk bisa hamil. Tetapi perlu diperhatikan, jika Anda mengalami keguguran sebanyak tiga kali secara berturut-turut, mungkin merupakan tanda akan timbulnya masalah medis yang mendasar. Sebaiknya Anda memang harus menyelesaikan dulu masalah ini, jika sudah terselesaikan setelah itu kembali melakukan program kehamilan.

Tetapi bila Anda tidak mengalami kehamilan meskipun tidak ada masalah kesehatan, tidak mesti langsung mengira Anda mengidap masalah ketidaksuburan. Faktor untuk kembali hamil pasca keguguran adalah mengenal tanda-tanda ovulasi, sebab saat itu hormon-hormon Anda dalam proses perubahan, serta akan menyeimbangkannya lagi untuk selama beberapa kali siklus dalam menstruasi.

Perempuan akan merasakan masa subur dalam beberapa hari di bulan itu, dan saat paling subur sebelum dan setelah ovulasi. Maka Dokter biasanya akan menyarankan Anda untuk menunggu satu siklus penuh menjelang hamil lagi (pasca keguguran). Biasanya, Anda disarankan menunggu 2-3 bulan oleh karena pada waktu itu dinding rahim sudah berangsur pulih.

Apabila Anda menjalani aborsi disebabkan alasan medis, mungkinkah faktor ini juga akan mengurangi kesuburan?

Aborsi bisa memengaruhi kesuburan apabila Anda mengalami komplikasi pada saat selama atau setelah prosedur dilaksanakan. Seperti, infeksi yang terjadi dapat meninggalkan jaringan bekas luka dibagian rahim, yang bisa mengganggu penanaman telur.

Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867

Selasa, 16 Oktober 2012

MENGENALKAN ETIKA MAKAN PADA BATITA




Jangan sampai terlambat mengenalkan dan mengajarkan etika makan kepada balita. Anda tentu ingin kelak anak tumbuh menjadi pribadi yang santun dan diterima oleh lingkungan sosial. Inilah “Top Ten” etika makan : 
  1. Cuci tangan sebelum makan dan sesudah makan. Meskipun menggunakan peralatan makan, tangan harus tetap bersih.
  2. Makan dalam posisi duduk –tidak sambil jalan-jalan atau berlarian. Hindari pula mebiarkan anak bermain saat makan, bermain dengan makanannya atau menyambi makan dengan aktivitas lain seperti menonton televisi. Anak tidak dapat konsentrasi terhadap makanannya, alhasil ia cenderung tidak menghabiskan makanan. Duduk dengan posisi tegak lurus, bukan membungkuk atau kaki selonjoran.  Saat duduk di kursi makannya, pastikan kursi si kecil tidak terlalu rendah dari meja makan, sehingga tidak mengganggu aktivitas makan. Bila perlu gunakan high chair. Posisi lengan boleh ditumpu di atas meja, namun jangan biarkan siku ikut ‘duduk’ di meja makan.
  3. Berdoa sebelum dan sesudah makan. Anak perlu memahami bahwa makanan yang ada di depannya adalah rejeki dari Tuhan. Maka ia sepatutnya menghabiskan makanan yang ia ambil.
  4. Tepat dan benar menggunakan peralatan makan. Sendok dan garpu digunakan sebagaimana fungsinya. Begitu juga bila memakai sumpit dan pisau –sediakan yang khusus untuk anak-anak dan ajarkan penggunaannya dengan benar. Gunakan serbet bila ingin membersihkan mulut. Serbet hanya diperlakukan untuk mengelap mulut, bukan hidung atau tangan. 
  5. Mulailah makan bila semua masakan sudah terhidang di meja makan. Kenalkan juga aturan bahwa orang yang lebih tua dipersilahkan terlebih dahulu untuk mengambil makanan.
  6. Makan dengan mulut tertutup dan tidak mengisi penuh mulutnya. Ia bisa tersedak atau malah tidak berselera makan. Makan dengan perlahan, tidak perlu terburu-buru. Makan terburu-buru bisa membuat anak tersedak, selain terlihat tidak sopan karena seperti anak yang sangat kelaparan. Perbolehkan ia menyuap usai makanan yang ada di dalam mulutnya habis.
  7. Ucapkan kata “terima kasih” setiap si kecil diberi atau diambilkan makanan oleh orang lain, kata “tolong” saat ia meminta diambilkan sesuatu, kata “maaf” bila ia tidak sengaja menjatuhkan atau menumpahkan makanan. Alangkah lebih baik jika si kecil mengucapkan “terima kasih” kepada orang yang sudah memasak makanan untuknya.
  8. Hindari berkomentar negatif tentang makanan yang sudah dihidangkan, seperti, “Makanannya tidak enak. Aku tidak suka!” Lebih baik bila anak diajarkan untuk bilang, “Apakah ada makanan yang lain, bunda? Aku tidak terlalu suka. “
  9. Ambil makanan sesuai dengan porsinya. Katakan padanya bahwa ia boleh tambah makanan jika ia merasa kurang. Ajarkan juga bertanggung jawab terhadap makanan yang sudah diambilnya. Jika ingin mengambil makanan, hindari bila tangan harus melewati piring orang lain, apalagi sampai tubuh si kecil ada di atas piring orang tersebut. Ajarkan ia untuk meminta tolong diambilkan oleh orang lain saja.
  10. Tutup mulut dan katakan “maaf” bila bersendawa. Hindari melarang si kecil untuk bersendawa karena ia bisa muntah. Makan dengan rapi. Hati-hati dan lakukan secara perlahan ketika mengambil atau mengaduk makanan. Jangan sampai makanan tercecer di atas meja.
Makan dengan tangan. Anggapan bahwa makan dengan tangan adalah kurang sopan tidak sepenuhnya benar. Ada manfaat yang bisa diperoleh anak, yaitu melatih kemampuan motorik halusnya dan belajar mengenal tekstur makanan. Lagipula, tidak semua makanan harus di makan dengan sendok, garpu atau sumpit –misalnya makan roti, hamburger, kentang goreng atau ayam goreng. Dan lagi, dalam budaya Indonesia, makan dengan tangan bukanlah hal tabu –bahkan merupakan hal baik dan kebiasaan yang dipujikan. Dari segi etika makan, selama posisi tubuh saat makan benar, perilaku makan sopan dan makan tidak berantakan, sah-sah saja. 



Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867


Senin, 15 Oktober 2012

GEJALA DAN CARA MENGATASI ANEMIA PADA ANAK DAN IBU HAMIL




Anemia adalah keadaan kadar hemoglobin yang berada di bawah normal sesuai umur dan jenis kelamin. Pada anak dan ibu hamil, penyebab terbesarnya adalah kekurangan zat besi. Zat besi merupakan bagian dari molekul pembentuk hemoglobin. Penyakit Anemia atau yang biasa disebut kurang darah ini, dapat menyebabkan 5 L (letih, lesu, lemah, lelah, dan lunglai).

Berikut ini gejala-gejala 5 L yang jika tidak diatasi, dapat menyebabkan Anemia :
 1. sering pusing.
2. telinga mendenging.
3. penglihatan berkunang-kunang.
4. cepat letih, sempoyongan.
5. mudah tersinggung.
6. berhenti menstruasi, libido berkurang.
7. gangguan saluran pencernaan, organ limpa membesar.
8. scleraikterik (bagian putih pada bola mata berwarna kuning).
9. nadi lemah tapi cepat atau hipotensi ortostatik.

Berikut gejala-gejala tersendiri Anemia karena kekurangan zat besi :
1. Pika, suatu keinginan memakan zat yang bukan makanan. Seperti es batu, kotoran, atau kanji.
2. Keilosis, bibir pecah-pecah.
3. Glositis, iritasi lidah.
4. Keilonikia, kuku jari tangan pecah-pecah dan bentuknya seperti sendok.

Berikut efek Anemia, diantaranya :
1. Mengganggu fungsi kognitif maupun perkembangan psikomotor.
2. Menurunkan potensi pertumbuhan.
3. Menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.
4. 5 L (letih, lesu, lemah, lelah, dan lunglai).
5. Memperlambat pertumbuhan cabang sel otak (dendrit), sehingga hubungan antara sel otak menjadi kurang kompleks dan pemrosesan di otak menjadi lambat.
6. Terganggunya proses mie linisasi, padahal proses ini sangat penting untuk kecepatan hantaran dan pemrosesan informasi di otak.
7. Gangguan metabolism di hipokampus (pusat kendali emosi).
8. Rawan terhadap serangan infeksi.

Sedangkan efek Anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan :
1. Rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oxygen.
2. Meningkatkan frekuensi komplikasi saat hamil dan melahirkan.
3. Pendarahan ante partum (pendarahan pada kehamilan di atas usia 20 minggu)
4. Pendarahan postpartum (pendarahan melebihi 500 ml yang terjadi setelah melahirkan)
5. Produksi ASI rendah.

Singkatnya, kekurangan zat besi pada anak bisa mengakibatkan berbagai gangguan, seperti : pendengaran, penglihatan, sulit konsentrasi, hiperaktif (sulit mengendalikan diri dan interaksi), gangguan emosi, gangguan memori dan rendahnya kecerdasan.

Bagaimanakah cara mencegah dan mengatasi Anemia ?
1. Untuk mencegah anemia pada bayi, anda cukup memberikan ASI ekskusif (menyusui hingga bayi berusia 6 bulan, atau dilanjutkan sekurang-kurangnya hingga 2 tahun).
2. Jika pada orang dewasa, cukupi kebutuhan zat besi dan gizinya.

Berikut makanan yang mengandung zat besi :
1. Kelompok lauk-pauk (daging sapi, telur, dan lain-lain).
2. Kelompok zat tepung (gandum, jagung, kentang, ubi jalar, talasm beras merah/putih, dan ketan hitam)
3. Kelompok sayuran (kadang-kacangan, jambu mete muda, daun kecipir, dll ).
4. Kelomok buah (kurma, apel, jambu, papaya, belibing, alpukat, nangka, salak, dan srikaya).
5. Makanan berserat lainnya.

Hal lainnya yang perlu diperhatikan :
1. Jangan berlebihan mengkonsumis teh, karena zat tanin yang terkandung dalam teh terbukti dapat menghambat penyerapan zat besi dalam usus.
2. Pemberian suplementasi zat besi dapat diberikan sejak dini, mulai dari anak berusia 6 bulan – 3 tahun. Atau lebih baik lagi, bila ibu hamil mengkonsumis zat besi untuk perkembangan otak janin dan darahnya.

Itulah tips mengetahui gejala, penyebab, efek, pencegahan dan mengobati Anemia yang semoga bermanfaat. Untuk menghindari anemia bisa dimulai membiasakan pola hidup sehat dan bersih. Dengan mengetahui gejala dan cara mengatasi Anemia pada anak dan Ibu hamil, anda bisa terhindar dari penyakit Anemia. Selamat mencoba. 

Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867
fixedbanner