Kamis, 08 Mei 2014

SAAT YANG TEPAT MEMBERIKAN MPASI




Menyapih adalah proses pengenalan jenis makanan semipadat, selain pemberian ASI, yang diberikan secara bertahap kepada bayi. Menyapih dimulai pada usia 6 bulan. Pemberiannya bertahap, yaitu dari segi jumlah, frekuensi, tekstur, serta variasinya. Awalnya, makanan diberikan dalam bentuk cair. Kemudian kental, semipadat, sampai ke makanan keluarga atau dewasa. Makanan padat diberikan tanpa tambahan gula, madu, atau garam supaya bayi mengenal rasa asli setiap makanan.

Tanda-tanda bayi siap disapih mulai tampak ketika bayi memasuki usia 6 bulan. Di antaranya, bayi sudah mulai bisa duduk meski awalnya perlu bantuan, mampu menyangga kepala, sudah menunjukkan gerakan mengunyah, serta bayi suka memasukkan benda ke dalam mulut. Tanda lainnya, bayi mulai tertarik melihat makanan, berusaha meraih makanan, atau memperhatikan orang yang sedang makan. Bayi juga sudah mampu mengkordinasikan mata, tangan dan mulut, serta sering menampakkan reaksi tidak puas meskipun sudah minum susu dalam jumlah besar.

Tujuan menyapih adalah memberikan energi serta nutrisi tambahan kepada bayi. Pasalnya, pemberian ASI saja tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan bayi. Di usia 6 bulan, ASI hanya mencukupi 50 – 70 persen kebutuhan bayi. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan gizi bayi bertambah. Oleh karena itu, bayi perlu tambahan makanan pendamping ASI (MPASI).

Menyapih membutuhkan waktu berbulan-bulan hingga bayi mampu menerima makanan keluarga. Maka, melatih bayi mengunyah makanan sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan motorik mulut. Pasalnya, setelah usia 10 bulan, bayi tidak lagi diberikan makanan kental. Pemberian makanan kental hanya untuk bayi usia 6 – 9 bulan.

Orang tua diharapkan mulai melakukan proses menyapih setelah bayi berusia 6 bulan. Penyapihan sesuai usia yang benar dapat mencegah risiko terjadinya kondisi kesulitan makan. Nah, pada usia 12 bulan, seharusnya bayi sudah mencapai tahap makan makanan keluarga.

Pilihan lain dalam menyapih adalah Baby Led Weaning (BLW). Secara garis besar, BLW adalah membiarkan bayi makan sendiri begitu memasuki usia penyapihan. Prinsipnya sama, yaitu mengenalkan makanan semipadat ke makanan padat yang diberikan bertahap kepada bayi, sebagai makanan pendamping ASI. Namun, BLW harus dikerjakan dengan cara dan metode yang benar supaya bayi mendapatkan cukup asupan sesuai kebutuhan berdasarkan usia dan jenis kelamin. BLW juga sebaiknya memperhatikan kecukupan jumlah asupan makro dan micronutrient dari makanan. Selain itu, pengenalan terhadap perubahan tekstur makanan juga penting.

Kegagalan tahap ini akan menyebabkan bayi kurang gizi dan picky eater. Orang tua sebaiknya menjaga dan mengawasi bayi saat proses menyapih sampai bayi mampu makan dan menelan makanan dengan baik tanpa bantuan. Ikut sertakan juga mereka dalam kegiatan makan keluarga. Selain itu, orang tua sebaiknya membuat variasi menu makanan bayi agar bayi menerima berbagai rasa makanan.

BILA TERLAMBAT MEMBERIKAN MPASI

Jika bayi terlambat diberikan makanan padat, maka laju pertumbuhan bayi akan terhambat. Lalu, kekebalan tubuh menurun, kekurangan mikronutrien (khususnya besi dan zinc), perkembangan motorik seperti gerakan mengunyah akan terlambat dan bayi akan menolak setiap menerima perubahan rasa serta tekstur makanan. Akibatnya, anak akan menjadi sulit makan.

Namun terdapat masalah pula bila MPASI diberikan terlalu dini. Di antaranya, produksi ASI akan menurun akibat rangsangan yang jarang. Pada kasus yang ekstrem, dapat menyebabkan gizi kurang, meningkatkan risiko penyakit infeksi akibat kurangnya faktor perlindungan (kekebalan), serta meningkatkan risiko alergi karena bayi belum dapat mencerna dan menyerap makanan dengan baik.

SYARAT UTAMA UNTUK MPASI

Makanan yang sebaiknya dihindari saat memberikan MPASI, antara lain makanan keras dengan potongan kecil karena dapat menyebabkan tersedak, terutama bagi bayi. Selain itu, garam sebaiknya tidak ditambahkan ke dalam makanan bayi sebelum usia 1 tahun, karena ginjal bayi belum matang dan belum mampu mengekskresi kelebihan garam dalam tubuh.

Pemberian garam atau gula yang berlebihan akan membuat bayi tidak mengenal rasa asli makanan. Hal ini menyebabkan anak akan pilih-pilih makanan. Sementara frekuensi asupan gula sebaiknya diperhatikan karena bisa meningkatkan risiko gigi karies.

Produk susu hewan seperti susu kambing, sapi dan domba sebaiknya juga tidak diberikan pada bayi di bawah 1 tahun, karena ketidak seimbangan gizi yang terkandung di dalamnya.

Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

fixedbanner