Rabu, 14 Januari 2015

GANGGUAN YANG SERING DIALAMI BAYI




Orangtua mana yang tak panik tatkala mendapati anaknya sakit ? Pada beberapa kondisi, orangtua tak perlu panik. Yang penting, orangtua harus tahu apa yang harus dilakukan. Ada beberapa jenis gangguan atau penyakit ‘langganan’ bayi dan anak, di antaranya demam, batuk, pilek, dan diare. Selain itu bayi juga sering terkena gangguan kulit akibat alergi atau yang dikenal dengan atopi. Misalnya sehabis minum susu sapi, kulitnya menjadi merah.  Berikut beberapa gangguan atau penyakit yang sering dialami bayi dan anak :

ATOPI

Pada bayi sering muncul rash alias ruam kemerahan di bagian pipi atau alis. Inilah yang dinamakan atopi atau alergi. Menurut orangtua dulu, hal ini disebabkan kulit bayi terkena susu. Padahal, bukan susunya yang bermasalah, melainkan si bayi memang memiliki bakat bawaan sensitif terhadap makanan. Penyebab lainnya adalah konsumsi zat putih telur dan seafood. Lateks atau karet juga bisa jadi pencetus alergi. Misanya, pada boks bayi, perlak, dan lain-lain.

Alergi atopi ini sudah dirangsang tumbuh dan timbul sejak bayi dalam kandungan. Bayi menurunkan bakat bawaan dari orangtuanya, sehingga bawaan alergi sudah ada pada kromosom atau genotipenya. Jika ayah dan ibu memiliki riwayat alergi, maka potensi seorang anak terkena alergi adalah 80 persen. Jika hanya satu orangtua yang punya riwayat alergi, potensinya menjadi 50 persen. Namun, bakat alergi ini bisa juga diturunkan dari kakek dan neneknya. Jika anak sudah punya bakat bawaan, maka tinggal menungu pencetus untuk bermanifestasi.

Atopi ini penting karena bisa menjadi data awal bagi dokter untuk menilai gejala yang akan terjadi pada bayi setelah masuk usia balita kelak. Mereka yang sudah memiliki bakat atopi, pada saat usia balita bisa sensitif terhadap debu, kapuk, dan benda lainnya, yang tak selalu sama antara satu dengan lainnya. Namun sejak awal, sudah bisa diprediksi bahwa anak akan sering batuk dan pilek karena alergi. Orangtua sebaiknya bisa membedakan antara batuk pilek akibat atopi dan karena tertular. Caranya dengan mengetahui riwayat anak saat masih bayi. Apakah anak punya bercak merah di kulit ? Kalau tidak ada bercak, bukan berarti bebas dari atopi juga. Mungkin saja waktu itu anak tidak terpapar oleh pencetus dan baru terpapar setelah berusia di atas setahun.

Orangtua juga bisa tahu dari batuk anak. Bila batuk tidak disertai demam, kemungkinan besar anak atopi. Sementara jika anak tidak demam dan tidak ada tanda atopi pada waktu lahir, harus dilihat frekuensi batuk pileknya. Batuk yang sering hilang timbul lebih dari 4 kali dalam satu tahun juga bisa menjadi indikasi bahwa anak atopi. Lama batuk pilek juga bisa jadi penanda. Kalau batuk pileknya lebih dari 2 minggu dan tidak demam, meski tidak ada riwayat atopi, kemungkinan atopi masih ada. Orangtua juga patut curiga anak atopi jika batuk pilek tak sampai 4 kali dalam setahun, tapi serangan berlangsung lama dan tanpa demam.

Apakah atopi bisa diobati ? Sebetulnya bukan mengobati gen-nya, melainkan mencegah fenomena atau manifestasi penyakitnya. Kalau vektor pencetusnya sedikit, maka meski ada faktor genetik pun, manifestasi atopi akan kecil.

DEMAM

Demam merupakan pertanda tubuh sedang melawan infeksi. Otak mengatur agar suhu tubuh naik untuk melawan infeksi yang masuk. Jadi, demam merupakan pertanda tubuh mulai melakukan perlawanan. Dengan kata lain, demam bisa jadi positif karena artinya anak punya kemampuan untuk melawan penyakit. Akan tetapi, meski tidak perlu panik, orangtua juga tidak boleh menyepelekan demam. Harus tetap waspada, karena demam berarti ada musuh yang masuk ke tubuh anak. Bisa bakteri, virus, protozoa, jamur, atau toksin. Keracunan makanan juga bisa menimbulkan demam.

Langkah pertama saat anak terkena demam adalah tidak menambah tinggi suhu tubuh, misalnya menyelimuti tubuh anak rapat-rapat dengan selimut tebal. Sebaiknya, tetap berpakaian serperti biasa. Setelah itu, orangtua bisa memberikan obat penurun panas jenis parasetamol atau ibuprofen. Jika demam belum hilang dan suhu tubuh tak kunjung turun, padahal sudah mendekati 39 derajat, maka orangtua harus mewaspadai potensi kejang pada anak. Sebaiknya, segera bawa ke dokter. Demam  harus ditata laksana dengan benar. Jangan datang ke dokter setelah terjadi komplikasi.

Suhu tubuh pada anak yang demam karena terkena bakteri, akan cenderung naik terus. Sebaiknya, segera kunjungi dokter untuk diberikan antibiotika, sesuaikan dengan usia dan jenis bakteri yang dicurigai. Penyebab demam bakteri di antaranya radang tenggorokan, tifus, varingitis, tonsilitis, dan laringitis. Sementara demam virus misalnya campak, demam berdarah, dan sebagainya. Waspada juga demam karena infeksi saluran kencing.

BATUK PILEK

Batuk pilek yang paling sering terjadi pada anak dan bayi adalah batuk pilek karena influenza. Penyakit ini termasuk ke dalam golongan ISPA (Infeksi saluran pernapasan atas). Umumnya, batuk pilek karena ISPA disebabkan oleh virus influenza yang sangat menular dan akan sembuh dengan sendirinya (self limiting disease) dalam 3-7 hari. Orantua tak perlu khawatir, tapi juga jangan meremehkan. Influenza juga merupakan salah satu pencetus alergi. Kalau virusnya termasuk jenis yang bisa merangsang atopi alergi, maka batuk akan berkelanjutan, bahkan bisa berkembang menjadi asma.

Pengobatan batuk pilek karena influenza biasanya dilakukan untuk mengobati gejala batuknya. Untuk itu, upaya terpenting adalah istirahat cukup dan mengkonsumsi vitamin. Pencegahan bisa dilakukan dengan vaksin influenza dan menghindari orang yang terkena flu. Orangtua, khususnya ibu-ibu, biasanya menganggap remeh batuk dengan memberikan obat batuk pilek yang dibeli dari warung. Hati-hati, karena meski sama-sama obat batuk, kegunaannya berbeda-beda. Ada yang untuk mengencerkan lendir, menahan batuk, membuat kuat selaput dinding, dan sebagainya. Jangan diberikan sembarangan.

Waspadai juga batuk pilek akibat radang laringitis, karena bisa membuat saluran napas menjadi sempit. Batuk juga berbahaya jika disertai panas atau napas yang cepat. Ini pertanda anak sudah kekurangan oksigen. Sebaiknya, segera ke dokter. Waspadai juga jika anak batuk tanpa demam, tapi bernapas cepat, dan ada cekungan di bagian leher bagian atas tulang dada, cekungan di ulu hati, serta di sela tulang iga. Sementara gejala pilek yang berdiri sendiri antara lain pegal, rewel, gelisah, tidur tidak nyenyak, tidak mau makan, dan sebagainya. Orangtua harus waspada jika pilek disertai batuk. Juga, jika cairan pilek yang semula berwarna bening berubah menjadi hijau. Ini berarti infeksinya sudah turun ke bawah dan ada zat-zat yang mati akibat ‘pertempuran’. Jadi, bukan murni pilek tapi sudah infeksi bakteri.

Jika pilek karena atopi, sebaiknya cari pencetusnya dan hindari. Sementara pilek karena flu biasanya bisa sembuh dengan sendirinya. Obat yang diberikan hanya menghilangkan gejala dan mengurangi sumbatan ingus di hidung. Sementara kunci kesembuhan bagi anak yang pilek karena flu adalah istirahat cukup, dan memberikan vitamin.

DIARE

Bayi atau anak disebut mengalami diare jika usia di atas satu bulan buang air besar lebih dari 4 kali. Disebut diare juga jika usia bayi kurang dari sebulan, tapi BAB lebih dari 10 kali. Selain itu, jika penampilan feses berubah dari kental menjadi cair, juga bisa menjadi ciri, meski hanya dua kali sehari. Diare, biasanya disebabkan oleh faktor higienitas yang kurang, karena bakteri, atau karena atopi.

Namun pada bayi, buang air besar sebanyak 4 kali sebenarnya juga belum tentu diare. Pasalnya, pada usia sekitar 3 minggu, bayi umumnya akan BAB usai minum. Jadi, bisa saja bayi BAB hingga delapan kali sehari. Tapi pada anak berusia satu setengah tahun, bisa lain artinya. Yang kemudian harus diperhatikan adalah anak kekurangan cairan (dehidrasi). Orangtua bisa membantu dengan memberikan air. Cairan terbaik adalah cairan yang sama dengan yang keluar, yakni cairan garam dan gula. Selain itu, bisa juga diberikan bakteri baik alias lactobaccilus, yang bisa bersaing dengan bakteri jahat.

Diare tak boleh diremehkan karena bisa berakibat fatal bila anak kekurangan cairan. Tanda-tanda anak harus dibawa ke dokter antara lain jika diare disertai muntah. Pasalnya, ini mencirikan anak tidak bisa menerima cairan yang masuk ke tubuhnya. Anak juga harus segera dibawa ke dokter jika buang air kecilnya berkurang, diare berlangsung selama lebih dari 2 minggu, atau anak bernapas cepat dan dalam.


Kurir ASI Jakarta by amura courier : solusi cerdas untuk wanita karir dan ibu menyusui. Tlp & sms : 085695138867


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

fixedbanner